Rumah Kita

adalah tempat kita menukar segala rasa yang kita alami

Kamis, 22 November 2012

Kurikulum Baru: Penjurusan Di SMA Masih Dibahas

Selasa, 13 November 2012


JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan kurikulum baru yang akan diberlakukan pada Juni 2013 ini masih menyisakan pembahasan mengenai penjurusan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Rencananya pembahasan mendalam terkait penjurusan ini akan dilaksanakan pada pekan depan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa ada beberapa opsi terkait penjurusan pada tingkat SMA ini. Pilihannya memang ada pada penghapusan penjurusan atau tetap ada penjurusan dengan metode yang sedikit berbeda dengan sebelumnya.


"Ini rencananya akan dibicarakan lebih lanjut pada pekan depan. Yang memang sudah dibahas mendalam itu yang struktur untuk pendidikan dasar," kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Sementara berdasarkan paparan yang disampaikan pada Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Boediono, ada tiga alternatif yang ditawarkan disertai dengan pertimbangan kelebihan dan kekurangannya. Namun alternatif ini belum dapat diputuskan karena harus melihat uji publik terlebih dahulu.

Adapun alternatif pertama adalah penjurusan dilakukan mulai kelas X. Penjurusan di awal ini membuat anak-anak fokus belajar sejak awal. Sementara sistem peminatannya hanya didasarkan pada hasil belajar sebelumnya yaitu rapor atau hasil UN SMP.

Alternatif kedua adalah difokuskan pada minat pada pendidikan lanjutan. Hal ini tentu membuat anak tidak terbebani dengan mata pelajaran yang tidak disukainya. Namun untuk alternatif ini, proses bimbingan harus lebih efektif agar anak-anak ini paham apa yang dipilihnya bukan sekedar coba-coba. Selain itu, sistem untuk Ujian Nasional (UN) juga harus diubah.

Alternatif terakhir adalah non penjurusan pada siswa SMA ini. Para murid diberi ruang seluas-luasnya untuk memilih sendiri mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya. Namun hal ini juga membutuhkan bimbingan yang efektif agar anak-anak tidak salah pilih karena berkaitan dengan masa depannya.

"Semua ini masih akan dibahas lebih lanjut lagi. Tapi tentunya yang terbaik yang akan dijalankan," tandasnya.

Draft Kurikulum Baru SMA Belum Beres

Minggu, 22 November 2012


JAKARTA, KOMPAS.com - Draf perubahan struktur kurikulum untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) sudah disampaikan sebelumnya. Kini, soal kurikulum sekolah menengah atas (SMA). Pembahasan kurikulum baru yang akan diterapkan pada Juni 2013 ini masih menyisakan permasalahan struktur kurikulum SMA. 
Kalaupun jadi, kurikulum untuk SMA belum akan diterapkan secara menyeluruh. Hal ini terkait dengan masalah penjurusan pada jenjang pendidikan menengah ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa masalah kurikulum untuk tingkat SMA ini memang akan diperdalam lagi. Namun telah mengemuka tiga alternatif yaitu tidak ada penjurusan sama sekali, penjurusan pada kelas X atau pemilihan mata pelajaran berdasarkan minta pada pendidikan lanjutan.
"Tapi ini masih dibahas lebih dalam lagi. Karena tiga alternatif ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," kata Nuh, saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Mata pelajaran tak berubah
Untuk jenjang menengah atas ini, jumlah mata pelajaran tidak mengalami perubahan hanya saja waktu belajar tetap ditambah sekitar satu jam pelajaran per minggu. Sementara itu, diusulkan adanya integrasi vertikal dengal perguruan tinggi agar memudahkan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan.

Bina life and career skills
Berbeda dengan tingkat SMA, untuk jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pengguna industri akan dilibatkan dalam penyusunan kurikulum untuk SMK. Kemudian muncul usul agar diadakan semacam pendalaman materi berhubungan dengan life and career skills.
UN untuk kelas XI?
Kemudian untuk dua tingkatan ini juga ada saran terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang sebaiknya dilakukan pada kelas XI. Dengan majunya waktu UN, anak-anak SMK akan fokus untuk ujian sertifikasi keahlian pada kelas XII. Sedangkan anak-anak SMA akan berkonsentrasi untuk ujian masuk perguruan tinggi pada kelas XII.

Senin, 17 September 2012

TIGA LANGKAH MEMBUAT BLOG


Kita hanya memerlukan tiga langkah untuk membuat blog lewat layanan blogger. langkah pertama adalah membuat account. Kedua memberi nama blog kita. Dan terakhir memilih pola desain halaman ( tempelate ) blog kita.

Untuk mengikuti tiga langkah itu yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menakses situs web Blogger di www.blogger.com. Dihalaman depan situs web blogger temukan ikon CIPTAKAN BLOG ANDA. Klik ikon tersebut.

Langkah kedua yaitu membuat account , jika kita tidak punya account google maka yang harus kita lakukan hanyalah mengisi formulir yang tersedia di halaman pendaftaran atau halaman ciptakan account. Isilah formulir itu dengan :
1. Alamat email yg kita punya, di jalur alamat email.
2. Pilih password untuk account kita dilajur masukan sebuah password
3. Masukkan kembali password yang tadi kita pilih di lajur ketik ulang sandi
4. Pilih nama yang akan muncul di setiap tulisan kita, di lajur Nama Tampilan
5. Ketik ulang teks yang tertera di lajur verifikasi kata dibidang yang tersedia
6. check kotak di lajur saya menerima persyaratan dan layanan sebagai tanda persetujuan kita pada aturan yang diterapkan di blogger.
7. klik ikon lanjutkan

langkah ketiga kita harus memberi nama blog kita. lengkapi form yang sudah disediakan dengan :
1. Nama blog kita di lajur judul blog. pilih nama yang unik, sesuai dengan isi blog kita nantinya dan gampang diingat oleh pembaca.
2. Pilih alamat yang bagus untuk blog kita di lajur alamat blog. Blogger menyiapkan alamat yang khas dengan nama belakang blogspot.com
3. Masukkan verifikasi kata
4. Abaikan sja pilihan opsi lanjutan
5. klik ikon lanjutan

ini langkah terakhir. kita harus memilih pola desain halaman blog kita. Blogger menyediakan beberapa template. pilihlah yang cocok dengan selera dan isi blog kita. Tidak perlu binggung kita boleh kok memilih sembarang template dulu, nanti kita masih bisa mengubahnya. Jangan lupa klik ikon lanjutkan kalo kita sudah menentukan pilihan template. Blogger kemudian akan mulai membuat blog untuk kita. Tunggu sebentar, kalau blogger sudah memberi tau, blog anda sudah jadi itu berati kita sudah siap. Kita punya blog sekarang.

Jumat, 06 Juli 2012

Hadiah dari suamiku
Tulisan terindah untukku

3 Bulan tidak mampu memandang wajah suami

Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu
belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok
belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?�.
Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter
untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang
istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah
apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak
peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.Melihat hasil seperti itu, sang
suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya
dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama
sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang
tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.Sang suami berkata kepada
sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi,
tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya,
sementara dia tidak ada masalah apa-apa.Kontan saja sang dokter menolak dan
terheran-heran.

Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju
untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada
pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.Sang suami memanggil sang istri
yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman.
Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka
amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “…
Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan
tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.Mendengar pengumuman sang dokter, sang
suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut
wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun
pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat
dan sanak saudara.Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang
suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat
menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya
telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan
tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:� betapa baik
dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama
Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh
keturunan�.

Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar
engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan
mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku,
menimangnya dan mengasuhnya. Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang
suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita
mesti …, mesti … dan mesti …�. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah
berceramah di hadapannya.Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan
kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih�.Sang suami
setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi
jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab
mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.Mendengar keterangan
tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia
berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan
kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak
segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan
menimang bayi, saya kan … saya kan …�.Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas
keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja�.“Haah, pergi?�.
Kata sang istri.“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur
ginjal, semoga dapat�. Kata sang suami.Sehari sebelum operasi, datanglah sang
donatur ke tempat pembaringan sang istri.

Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari
sang donatur.Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam
dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi
meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi�.Operasi berhasil dengan
sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya
tanda-tanda orang yang kelelahan.Ketahuila h bahwa sang donatur itu tidak ada
lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan
satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan
siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri
melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan
para tetangga.Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah
menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja
sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah
menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari
‘Ashim.Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan
buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.

Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya
dan membacanya.Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang
diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia
menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang
permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon
istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani
menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan
mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
Puisi indah dari suami tercinta
Ditulis untukku beberapa bulan lalu sebagai kado ultahku 

DO’A CINTA
Ya Allah,
Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah,
Andai semua itu tak layak bagi kami,
Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah, Sempurnakanlah kebahagiaan kami .
happy-bday1

Waktu berjalan tiada henti
mengiringi rembulan dan mentari
yang terbit nan tenggelam setiap hari
mengiringi usiamu yang terus bertambah dari hari ke hari
hingga saat ini…..
SELAMAT ULANG TAHUN
Istriku,dihari ulang tahunmu aku tidak bisa menyiapkan kue besar atau makan malam romantic serta kado yang mewah .tapi hanya DO’A CINTA dan kado sederhana dengan harga yang tidak seberapa, aku sertakan cinta kasih sebagai pembungkusnya.

Sabtu, 17 Desember 2011

QUANTUM PARENTING

Berbagi hasil seminar Quantum Parenting walau aku sendiri belum menjadi orang tua sebenarnya.

Bersyukurlah telah lahir anak – anak karena dengannya kita dipanggil ayah/bunda atu abi/umi.

Anak – anak memiliki masa emas dalam pertumbuhannya yaitu usia 0 – 4 tahun. Dalam masa itu perkembangan otak mereka mencapai 80 %, sehingga kita sebagai ortu harus menyiapkan kebutahan mereka di masa – masa emas ini. Adapun kebutuhan itu adalah ;
1. Mengenal Tuhannya
2. Asupan makanan bergizi
3. Rangsangan tepat untuk menambah kecerdasan majemuk seperti ligustik, logika, musical, spasial dan visaual, intelengensia, gerak tubuh, interpersonal, intrapersonal.

Untuk itu agar dapat membentuk wonder kids diperlukan wonder parent, wonder teacher dan wonder school. Untuk menjadi wonder parent dibutuhkan 3 kekuatan utama yaitu : 

1. Kekuatan Paradigma : 
Sikap dan perilaku tentang seseuatu sangan dipengaruhi oleh pandangan / paradigma kita tentang sesuatu itu. Sikap dan perilaku kita pada anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana paradigma kita pada anak. Ketika paradigma kita pada anak negatif maka sikap dan perilaku kita juga akan negatif, maka agar sikap dan perilaku kita pada anak benar dan baik maka kita harus memiliki paradigma yang benar dan baik tentang siapa anak kita ?.
Paradigma tentang anak kita yang benar :
• Anak laksana Barang Tambang : mendidik anak memerlukan waktu yang panjang dan lama.
• Anak kita adalah Wadah : Sebuah paradigma anak-anak adalah wadah yang berbeda besar dan ukurannya , kewajiban ortu adalah mengisinya secara penuh.
• Anak adalah Fitrah ; sebuah paradigma yang memandang bahwa setiap anak berpotensi menjadi orang baik.
• Anak adalah Cinta Abadi kita : Yang meyadarkan pada kita bahwa kitalah cinta abadi/sejati itu. 
• Anak kita adalah Guru Terbaik kita : orang tua tumbuh menjadi baik bersama anak – nak mereka.
• Anak adalah Anugrah Terindah : Karenanya kita dipanggil ayah dan bunda.

“Setiap anak dilahirkan genius. Namun bakat dan talenta itu akan tinggal diam – layaknya harta karun yang tidak pernah ditemukan jika tidak dieksplarasi dengan sengaja dan kemudian di pupuk. Yang bertanggung jawab untuk eksplorasi bakat anak dan perkembangannya hingga titik optimal adalah orang tua. “

Perilaku oaring tua dan kecerdasan sosial :
Jika ank dibesarkan dengan celaan maka dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan maka dia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok maka dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati maka dia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dorongan maka dia belajar berjuang
Jika anak dibesarkan dengan berbagi maka dia belajar kedermawaan
Jika anak dibesarkan dengan toleransi maka dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian maka dia belajar menghargai

Sikap dan perilaku yang mendomonasi anak kita adlah gambaran dari sikap dan perilaku dominan pada anak kita.

2. Kekuatan Cinta
Bimbinglah sang buah hati untuk mencintai sang maha pencipta. Peluklah buah hati dengan sepenuh jiwa, karena bila seorang anak terpaut hatinya : 
Selalu ingin berdekatan dengan orang tuanya
Merasa aman dan tentram terhadap oaring tuanya
Ada kepercayaan dalam hubungan
Mudah bergaul dengan temannya.
Ekspresikan cinta dengan perilaku anda kerena setiap anak memerlukan perhatian yang focus dari orang tuanya untuk merasa dekat hatinya dan terpaut jiwanya. Yang menjadi masalah adalah bahwa keseluruhan pesan yang anak terima seharusnya membuat ia merasa bermakna dan mempunyai hubungan yang penting dengan orang tua. Sehingga orang tua harus mempunyai kepekaan dalam mengenali dan menyikapi dengna tepat sinyal – sinyal sang buah hati.

4. Kekuatan Do’a 
Anak –anak sukses karena kekuatan doa orang tuanya. 
QS : 14 :35 : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : ‘ Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini (mekah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala – berhala.
QS : 14 :40 : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Doa adalah senjata pamungkas kita.
QS: 14 : 37 : Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuahn kami (yang demaikaian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur.


Kesimpulan
1. Setiap anak memiliki 8 kecedasan majemuka yang wajib kita rangsang.
2. Tidak ada anak yang bodoh dan pintar. Yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa kecerdasan
3. Tidak ada anak yang nakal, yang ada oaring tua yang tidak sabar
4. Anak adalah peniru yang hebat



Boleh jadi kita tidak akan pernahmenjadi orang tua yang sempurna tapi insya Allah kita akan menjadi orang tua yang hebat.
Tidak ada anak yang nakal yang ada orang tua yang kurang ilmunya.
Bolah jadi anak – anak anda gagal melaksanakan yang anda perintahkan, yakinlah anak – anak anda berhasil apa yang anda lakukan.

Selasa, 13 Desember 2011

Aku Terpaksa Menikahinya.....

KISAH INSPIRATIF UNTUK PARA ISTRI DAN SUAMI

(saya copy dari DPW PKS DIY ) 

Husbands Dream

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.